Kegiatan yang digelar UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta tersebut dibuka Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Prof. E. Aminuddin Aziz, M.A. Gelar wicara itu digelar dalam rangka memperingati 124 Tahun Bung Hatta dengan tema “Warisan Nalar Kebangsaan untuk Generasi Indonesia yang Cerdas dan Berkarakter”.
Menurut Jasman, Bung Hatta merupakan sosok yang tidak pernah habis untuk dikaji. Ia dikenal sebagai lubuk ilmu, menguasai enam bahasa, diplomat ulung, hidup sederhana, serta memiliki keteladanan dalam persoalan antikorupsi dan literasi.
“Kalau kita bicara dengan Bung Hatta, kita akan banyak menerima hal-hal yang sebetulnya harusnya menjadi teladan bagi kita. Bung Hatta itu adalah lubuk ilmu, lubuk teladan,” ujar Jasman.
Jasman juga menyoroti keteguhan prinsip Bung Hatta saat memilih berpisah dari Soekarno sebagai dwitunggal. Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan bahwa Bung Hatta menempatkan prinsip dan pemikiran di atas jabatan maupun kekuasaan.
“Beliau mempunyai pendirian yang teguh. Kita tahu sejarah bagaimana beliau rela berpisah sebagai dwitunggal karena mempertahankan prinsip,” katanya.
Dalam perjalanan awal Republik Indonesia, Jasman menggambarkan Bung Hatta sebagai penyeimbang Soekarno. “Kalau Bung Karno itu api yang membakar, Bung Hatta itu adalah air yang menenangkan dan menunjukkan arah. Begitu bersemangatnya Soekarno, untung ada Bung Hatta yang menenangkan,” ujar Jasman.
Bung Hatta, lanjutnya, juga dikenal sebagai Bapak Koperasi dan tokoh ekonomi kerakyatan. Jasman menyebut Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai bagian penting dari pemikiran Bung Hatta. Ia juga menekankan keteladanan Bung Hatta dalam persoalan kejujuran dan antikorupsi.
“Padahal zaman dulu itu mungkin korupsi belum bisa dilaksanakan karena uangnya enggak ada. Tetapi Bung Hatta mulai bicara, dia telah bicara tentang itu,” katanya.
Jasman kemudian mengangkat kisah sepatu Bally sebagai gambaran kesederhanaan dan integritas Bung Hatta. Menurutnya, sebagai wakil presiden, Bung Hatta memiliki kesempatan memperoleh berbagai kemudahan, tetapi tetap memilih memegang prinsip.
“Kalau dia mau, seorang wakil presiden tinggal telepon, tinggal tunjuk, tinggal minta, dapat. Dan itu kisah sepatu Bally itu adalah kisah yang luar biasa buat kita semua,” ujarnya.
Selain tidak mabuk kekuasaan, Bung Hatta disebut memiliki kemampuan intelektual yang luas. Jasman menyebut Bung Hatta menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Arab, dan Jepang. Kemampuan itu turut mendukung perannya sebagai diplomat dalam Konferensi Meja Bundar 1949.
“Dengan logikanya yang super tajam dan tenang, dia berhasil memaksa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia,” kata Jasman. Ia juga menyebut Bung Hatta sebagai “otaknya ensiklopedia berjalan” karena keluasan pengetahuan yang dimilikinya.
Jasman menilai kekuatan Bung Hatta tidak hanya terletak pada perjuangan politik, tetapi juga kecintaannya terhadap ilmu dan literasi. Tradisi membaca, menulis, dan berpikir yang diwariskan Bung Hatta dinilai penting diteruskan generasi muda. “Lambang bahwa literasi itu lebih tajam daripada peluru,” ujarnya.
Ia mengajak generasi muda tidak hanya mengenal Bung Hatta sebagai tokoh sejarah, tetapi juga meneladani sikap hidup, etos kerja, keteguhan prinsip, dan semangat perjuangannya. “Kita perlu belajar banyak lagi bagaimana menggali potensi-potensi, dan itu semua ada di Bung Hatta. Beliau rendah hati, sumber ilmu, dan juga pedoman kita untuk melangkah lebih jauh bagaimana mengurus negara ini,” katanya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis mengatakan penghormatan terhadap Bung Hatta bukan hanya karena statusnya sebagai Proklamator dan Bapak Koperasi Indonesia, tetapi juga karena keteladanan intelektualnya. Ia mengutip pesan Bung Hatta, “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku akan bebas.” Menurutnya, pesan tersebut semakin relevan di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi.
Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi, Leksi Hedrifa, mengatakan Pekan Literasi Bung Hatta digelar selama sepekan dengan berbagai rangkaian kegiatan. Selain gelar wicara, kegiatan tersebut mencakup dialog literasi, lomba mewarnai, webinar, kelas inspirasi, jalan sehat, membaca buku dan dongeng anak usia dini, hingga pemutaran film dokumenter tentang Bung Hatta.
“Harapan kami dalam kegiatan ini nanti, bahwa kita yang hadir semuanya dapat mendapatkan manfaat dengan adanya kegiatan ini. Di mana kehadiran sosok Bung Hatta yang sangat kita rindu-rindukan dan juga sangat kita teladani akan menjadi sesuatu yang berarti bagi hidup kita,” kata Leksi. (adpsb/cen)

0 comments :
Posting Komentar